Biografi

Habib Abdullah bin Umar bin Ahmad Asy-Syatiri

Sebagaimana buah yang jatuh tidaklah jauh dari pohonnya, demikian kata pepatah yang mengibaratkan ke-eratan hubungan antara anak dan orang-tuanya.

Tulisan ini akan mengupas sedikit tentang biografi ayahanda seorang ulama besar kenamaan asal bumi awliya’ (Para Wali Allah) Tarim al-Ganna, di Hadhramaut sebuah propinsi dari negara Yaman, Beliau adalah Sayyid Salim bin Abdullah asy-Syathiri (salah seorang guru besar dari Sayyid al-Habib Ahmad bin Hasan al-Kaff), sebagaimana beliau yang kini tengah mengasuh sebuah lembaga pendidikan Islam(pesantren) “Rubath Tarim” yang merupakan rahimnya banyak terlahir ulama yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai keislaman di segenap penjuru Yaman hingga luar negeri. Ayahanda beliau yang akan kita pelajari yaitu Sayyid Abdullah bin Umar asy-Syathiri juga merupakan murabbi (Penuntun di Jalan Allah) yang banyak memberikan kontribusi terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut.

Nasab dan Kelahirannya

Beliau adalah Al-Imam Al-Allamah Syaikhul Islam Habib Abdullah bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Ali bin Husein bin Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Alwi ( Asy-Syatiri) bin Faqih Ali Al-Qadhi bin Ahmad bin Muhammad Asadullah bin Hasan At-Turabi bin Ali bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad (Shahib Al-Mirbath) bin Ali (Khali’ Al-Qasam) bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad bin Al-imam Ali Al-‘Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW.

Beliau dilahirkan di kota Tarim Al-Ganna’ (Hadramaut) pada bulan Ramadhan tahun 1290 H. dari pasangan yang mulia Habib Umar bin Ahmad Asy-Syatiri (wafat tahun 1350 H) dan Syarifah Nur binti Umar bin Abdullah bin Syihab.

Riwayat dan Perjalanan Pendidikan

Di masa emasnya yaitu masa pertumbuhan, beliau telah digembleng dan menerima pendidikan agama yang kental dari keluarganya. Mulai dari baca tulis, talaqqi al-Qur’an hingga fiqih dan tasawuf sebagai bekal kelak meniti jalan ilmu yang terjal dan penuh dengan tantangan serta membutuhkan kesabaran.

Di masa kanak-kanak beliau belajar Al-Qur ían kepada dua orang guru Syaikh Muhammad bin Sulaiman Bahami dan anaknya, Syaikh Abdurrahman Baharmi, kemudian beliau mengikuti pelajaran di Madrasah Al-Habib Abdullah bin Syaikh Al-Idrus pada saat itu yang mengajar di tempat tersebut adalah Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Kaff dan Al-Habib Syaikh bin Idrus Al-Idrus. Kepada merekalah beliau belajar kitab-kitab dasar dalam ilmu fiqih dan tasawwuf selain menghafal beberapa juz Al-Qur ían.

Setelah ilmu-ilmu dasar dikuasainya beliau benar-benar memfokuskan kegiatannya untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih luas. Beliau selalu mengikuti Mufti Hadramaut saat itu, Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, juga gurunya yang selalu menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka beliau belajar kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan lain-lain, juga gurunya yang selalu menyebarkan dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur dan para ulama Tarim lainnya. Kepada mereka beliau belajar kitab-kitab tafsir, hadits, fiqih, nahwu, tasawuf dan lain sebagainya.

Rasa hausnya akan ilmu pengetahuan membuat beliau tak jera dan tak kenal lelah untuk menggali dan menyerap pelajaran dari guru-guru serta kibar masyaikh (para Syaikh Guru Besar Islam) Tarim kala itu termasuk diantaranya adalah mufti diyar Hadramiyah Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur dan putranya yaitu Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur. Tidak cukup sampai di situ, beliau juga “nyantri” keluar dari kampung halamannya menuju kota Seiwun, sebuah kota yang kini dapat ditempuh dengan kendaraan umum selama satu jam. Di Seiwun beliau tinggal selama 4 bulan di Rubath Habib Ali.

Sebagaimana kebiasaan dan kecenderungan para ulama pada umumnya Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri pun tak puas bila hanya belajar ke kotanya. Maka berangkatlah beliau ke Seiwun, lalu tinggal di Rubath kota ini selama empat bulan. Di kota ini diantaranya beliau belajar kepada Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, penyusun kitab Maulid Simthud Durrar, selain menimba ilmu kepada sejumlah ulama Seiwun lain dan orang-orang shalih, beliau juga mengambil ilmu dari Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas dan Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dengan perjalanannya ke Haramain tahun 1310 H (1892 M) jumlah gurunya semakin bertambah banyak.

Ketika usianya menginjak remaja sekitar umur 20 tahun, beliau bersama dengan ayahanda tercinta pergi keluar kota, tepatnya ke Haramain (Dua Tanah Haram) untuk melaksanakan ibadah haji, setibanya di sana sang anak yang begitu menggelora untuk mencari mutiara ilmu berkehendak untuk memperdalam lagi pengetahuan agamanya dengan berguru pada ulama-ulama yang ada di Mekkah. Apalah daya, sang ayah tak dapat menolak I’tikad putranya itu, dan pada akhirnya mengabulkan niatanya untuk menimba ilmu di kota suci Mekkah al-Mukarammah.

Restu dari ayahandanya tidak disia-siakan begitu saja, di hari-hari menuntut ilmu di Makkah, jam istirahat beliau tidak melebihi dari dua jam dalam sehari semalam, hal itu dikarenakan semua waktunya diinfakkan untuk menimba ilmu. Dan dalam hidup kesehariannya beliau mampu belajar tiga belas mata pelajaran, dan semuanya dikaji (muthala’ah) kembali setelah belajar. Adapun semua surat yang dilayangkan oleh ayahnya yang isinya memohon beliau untuk pulang ke kampung halaman, oleh beliau diletakkan begitu saja di bawah tempat tidur tanpa dipedulikannya, semua ini mencerminkan akan kehausnya beliau terhadap ilmu pengetahuan dan ketertarikan beliau terhadap ilmu yang bersih dan suci dari tempat yang mulia.

Setelah menunaikan haji dan menziarahi datuknya Rasulullah SAW , beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kesungguhannya sulit di cari bandingannya. Dalam sehari semalam beliau ber-talaqqi (belajar secara langsung dan pribadi dengan menghadap guru) dalam tiga belas pelajaran. Setiap sebelum menghadap masing-masing gurunya, beliau muthala íah (kaji) dulu setiap pelajaran itu sendiri.

Guru-gurunya yang sangat berpengaruh di Makkah di antaranya Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi, Syaikh Muhammad bin Said Babsheil, Syaikh Umar bin Abu bakar Bajunaid dan Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha, pengarang kitab I íanah ath-Thalibin yang merupakan syarah kitab Fath Al-Mu íin.

Tetapi yang menjadi Syaikh fath (guru pembuka)-nya adalah Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur, gurunya ketika di Tarim. Tak terhitung lagi banyaknya kitab yang beliau pelajari pada gurunya ini dalam ilmu fiqih dan yang lainnya. Selama tiga tahun beberapa bulan beliau berada di Makkah. Pada tahun 1314 H (1896 M) beliau kembali ke negerinya, Tarim dengan membawa bekal ilmu dan tersinari cahaya Tanah Suci, kemudian beliaupun mengajar di Rubath Tarim sampai wafatnya Al-habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur tahun 1320 H (1902 M).

Ada beberapa faktor baik intenal maupun eksternal yang menyebabkan beliau memiliki banyak kelebihan, baik dalam ilmu maupun lainnya, sejak kecil hingga dewasanya, selain bakat dan potensinya dalam hal kecerdasan, kecenderungannya yang untuk menjadi ulama dan tokoh telah nampak sejak kanak-kanak, dukungan yang sepenuhnya dari orangtua juga menjadi faktor penting yang tak dapat diabaikan. Ayahnya senantiasa mencukupi kebutuhannya sejak kecil hingga lanjut usia.

Mengenai hal tersebut Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar mengisahkan, suatu ketika seseorang memuji beliau baik ilmunya maupun amalnya di hadapan Al-Habib Abdullah sendiri dan ayahnya Al-Habib Umar Asy-Syathiri. Maka ayahnya yang alim itu juga berkata , îAku mencukupi kebutuhannya. Aku hanya makan gandum yang sederhana, sedangkan ia aku beri makan gandum yang bagus, î.

Al-Habib Ali bin Husein al-Aththas Bungur dalam kitabnya mengatakan, barangkali maksud ayah Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri berbuat demikian adalah untuk meningkatkan akhlaknya atau karena ia khawatir anaknya terkena a íin (pengaruh mata, yakni yang jahat) karena di usia muda itu telah nampak kepemimpinannya dalam masalah agama, dengan mengkonsumsi makanan yang lebih baik, diharapkan daya tahannya lebih kuat.

Di waktu kecil itu pula, apabila terjadi suatu kejadian yang remeh pada diri Habib Abdullah tetapi tak di sukai ayahnya, maka sang ayah mengharuskannya membaca Al-Qur ían hingga khatam, sebelum memulai pelajaran selanjutnya, meski pun pemikiran dan kesiapannya untuk menerima pengetahuan masih terbatas.

Kiprahnya dalam Kancah Pendidikan dan Dakwah

Dalam waktu yang relative singkat Habib Abullah asy-Syathiri dapat menyerap berbagai macam disiplin ilmu agama, maka dengan kapabilitas keilmuannya yang tinggi, meskipun umur beliau masih tergolong belia kurang lebih 23 tahun, namun beliau telah layak untuk mengemban sebuah amanah besar yaitu melanjutkan perjuangan orang-tua beliau yaitu mengajar sekaligus memimpin administrasi di Rubat Tarim sepulangnya dari kota Mekkah, karena memang ketika itu sangat diperlukan tenaga menejeman. Namun kajian umum, seperti “rouhah” dan “madras” yang rutin diadakan setiap hari Sabtu dan Rabu masih diemban oleh para guru-guru sepuh pada saat itu, yaitu mufti hadhramiyah al-Allahmah habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur.

Khidmah beliau terhadap ilmu serta penyebarannya kesegala penjuru dan kalangan sangatlah besar sebagaimana tercermin dari ucapan Habib Alwi bin Muhammad Al-Muhdhar bahwa beliau tidak mendapati daerah yang di dalamnya ada madrasah atau tempat mencari ilmu kemudian ditanyakan kepada siapa mereka belajar, kecuali jawabannya adalah mereka berguru pada Habib Abdullah Syathiri atau murid dari muridnya.

Selain mengajar di Rubat Tarim, beliau juga mengisi kegiatan baca maulid nabawi yang rutin dilaksanakan di masjid jami’ Tarim tiap malam Jum’at yang dilanjutkan dengan muhadharah dan dakwah terhadap para hadirin, kegiatan ini berlangsung setelah wafatnya guru beliau Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abi Bakar Al-Masyhur, meskipun beliau sering juga seringkali menggantikan gurunya kala berhalangan untuk hadir.

Beliau juga Sering kali mengadakan kegiatan membuka majlis di Tarim selain kegiatan ta’lim di Rubath, dan biasanya hadirin yang datang tidak sedikit baik dari kalangan ulama maupun masyarakat Tarim lebih-lebih lagi kalangan thalabah Rubath sendiri. Sedangkan untuk pengajian di Rubath tiap habis shalat Subuh, Ashar dan Maghrib tidak pernah beliau tinggalkan bagaimanapun keadaanya kecuali ada halangan syara’, bahkan beliau sering memaksakan diri untuk hadir dan mengalami banyak kepayahan dan kesulitan. Apabila mengalami sakit sehingga tidak bisa berjalan ke Rubath untuk mengajar maka beliau memanggil para thalabah untuk datang ke rumahnya dan menyuruh mereka membaca kitab dihadapannya karena beliau ingin sekali agar thalabah tidak menyia-nyiakan waktu sehingga semuanya mendapatkan faidah ilmu. Beliau sering berujar: “kami datang (ke Rubath) dengan sakit kepala dan beberapa penyakit maka kami berobat dengan mendengarkan ilmu (bacaan kitab dari para santri).” Dan berkata pula: “jangan kalian sangka wahai anak-anakku (sapaan beliau terhadap para santri) bahwa tidak ada bagi kami teman yang meminta kepada kami untuk datang ketempat mereka untuk menghadiri jamuan secangkir kopi dan sedikit makanan, akan tetapi kami berpaling dari mereka (menolak untuk menghadirinya) dan kami lebih mengutamakan kalian, dengan harapan dapat memberikan kalian manfaat ilmu.”

Diantara kebiasaan beliau di akhir hidupnya adalah jalan berkeliling mengontrol halaqah-halaqah (kumpulan-kumpulan belajar/diskusi agama) yang ada di Rubath, hal itu beliau lakukan setelah shalat Subuh setiap harinya selain hari selasa, kamis dan Jum’at. Semua halaqah beliau datangi dan menanyakan apakah gurunya hadir atau tidak?. Apabila ada diantara dewan gurunya tidak hadir, maka beliau meminta seseorang untuk menemuinya dan memintanya hadir, sedangkan beliau duduk di halaqah tersebut untuk menggantikan sementara sampai guru yang dipanggil tadi datang. Dan apabila seluruh dewan gurunya hadir semua, maka beliau duduk ditengah-tengah santri dalam suatu halaqah yang diinginkannya dan menanyakan tentang apa yang mereka baca dan membahas masalah yang sulit dipahami. Para santri pun sangat senang dan gembira dengan berkelilingnya guru besar mereka, menemui dan memberikan mereka semangat dalam belajar sehingga masing-masing dari mereka ingin diperhatikan oleh sang maha guru.

Rubath Tarim
Rubath Tarim adalah rubath yang tertua di Hadramaut dan terletak di kota Tarim. Rubath ini usianya mencapai 118 tahun. Asy-Syeikh Abubakar Bin Salim yang hidup jauh sebelum masa Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry setiap kali pergi ke kota Tarim, beliau selalu berhenti di suatu tanah sambil berkata, “Tanah ini nantinya akan menjadi sebuah Rubath…”.

Benarlah apa dikatakan oleh beliau, diatas tanah itu akhirnya terbangunlah Rubath Tarim. Dikatakan di sebagian riwayat bahwa 2 wali min Auliyaillah Al-Faqih Al-Muqoddam dan Asy-Syeikh Abubakar Bin Salim selalu menjaga Rubath Tarim. Juga dikatakan bahwa setiap harinya arwah para auliya turut menghadiri majlis-majlis taklim di Rubath.

Al Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri adalah ulama pelopor yang telah mengabdikan dirinya di Ribath Tarim dan berhasil melahirkan ribuan alumnus yang saat ini menyebar di berbagai negeri Islam. Rubath Tarim adalah ma íhad (Pesantren) yang telah mencetak banyak ulama besar. Hampir tidak ada negeri muslim yang tidak mendapatkannya manfaat dan cahaya ilmu Rubath Tarim dan kini cabangnya di mana-mana.

Rubath Tarim terletak di jantung kota Tarim. Didirikan pada tahun 1304 H oleh para tokoh habaib dari keluarga Al-Haddad, Al-Junaid, Al-Siri.

Di samping masyaikh dari keluarga Arfan. Sedangkan yang pertama kali mewakafkan sebagian besar tanahnya adalah Al-Habib Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, saudara Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri dan ayah Al-Habib Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri. Rubath Tarim didirikan karena para santri yang datang dari tempat yang jauh ternyata sulit untuk mendapatkan tempat tinggal, maka para tokoh habaib saat itu sepakat untuk mendirikan Rubath Tarim sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan Islam, bahasa arab dan sebagainya, disamping sebagai tempat tinggal para santri yang datang dari tempat yang jauh. Maka datanglah para penuntut ilmu dari dalam dan luar Tarim, dari dalam dan luar Hadramaut diantaranya dari Indonesia, Malaysia, negeri-negeri Afrika, Negara-negara Teluk dan lain-lain.

Sejak didirikan pada tahun 1304 H (1886 M), Rubath Tarim dipimpin oleh Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur hingga tahun 1314 H (1896 M). Kemudian kepemimpinan berpindah kepada Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Di tempat inilah beliau menghabiskan usianya demi menyebarkan ilmu-ilmu keIslaman dan melayani kaum muslimin. Sejak menjadi pengasuh Rubath Tarim beliau telah mewakafkan seluruh kehidupannya untuk berjihad, berdakwah, mengajar, dan menjelaskan berbagai persoalan agama. Perjalanan panjang Rubath Tarim memang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri.

Selama kurang lebih 50 tahun pengabdiannya murid-muridnya tak terhitung lagi banyaknya, baik dari Hadramaut maupun dari luar, peran dan jasanya tak terbatas di lingkungan Rubath Tarim saja, melainkan juga meluas keseluruh Tarim, bahkan ke kota-kota dan wilayah-wilayah lain di Hadramaut.

Murid-Murid Beliau
Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry memiliki banyak murid yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Tidak kurang dari 13.000 ulama tercatat sebagai alumni Rubath (ma’had/ponpes) Tarim yang diasuh oleh beliau. Bahkan riwayat lain menyebutkan lebih dari 500.000 ulama pernah belajar dari beliau. Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Alhaddad sempat berkata, “Tidak pernah aku masuk ke suatu desa, kota atau tempat lainnya, kecuali aku dapatkan bahwa ulama-ulama di tempat tersebut adalah murid dari Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry atau murid dari murid beliau”. Sebagian ulama alumni Rubath pimpinan Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry diantaranya adalah :

Di Hadramaut

  1. Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Bin Syeikh Abubakar
    Beliau adalah pimpinan Rubath Syihir. Setelah beliau wafat, dilanjutkan oleh Al-Habib Kadhim bin Ja’far bin Muhammad Assegaf. Semasa belajar di Rubath Tarim, beliau Al-Habib Ahmad belum pernah tidur. Tempat tidur beliau selalu kosong dan rapi dan hal ini berlangsung selama 10 tahun.
  2. Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alhaddar
    Beliau belajar kepada Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry selama 4 tahun. Semasa belajar, beliau selalu menghafal pelajaran di pinggiran atap (balkon) Rubath Tarim. Beliau pernah berkata, “Kalau saya masih mau hidup, saya harus menghafalkan pelajaran dan tidak boleh tidur”. Kalau hendak tidur, beliau selalu mengikat kakinya dengan tali dan diikatkan ke jendela kecil. Beliau hanya tidur selama beberapa jam. Sisanya dipergunakan untuk mendalami ilmu agama. Jika waktunya bangun, Al-Habib Alwi bin Abdullah Bin Syahab menarik tali yang terikat di kaki Al-Habib Muhammad sambil berseru, “Wahai Muhammad, bangunlah…!”, lalu terbangunlah beliau. Itulah sebagian mujahadah beliau sewaktu belajar di Rubath Tarim.
  3. Al-Habib Hasan bin Ismail Alhamid
    Beliau adalah pimpinan Rubath Inat. Di Rubath Tarim beliau belajar selama beberapa tahun, lalu beliau diperintahkan oleh Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry untuk membuka Rubath di kota Inat. Sampai sekarang Rubath Inat terus berkembang dan berkembang.

Di Indonesia

  1. Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. (Datuk guru dari Sayyid Hasan bin Jaífar As-Seggaf, pimpinan Majlis Nurul Mustofa, Jakarta)
    Beliau adalah seorang wali Qutub dan pimpinan Ma’had Darul Hadits Malang. Dari sebagian murid beliau diantaranya putera beliau sendiri Al-Habib Abdullah, Al-Habib Salim bin Ahmad Bin Jindan dll.
  2. Al-Habib Abdullah bin Husin Al-‘Attas As-Syami
    Beliau seorang wali min auliyaillah dan tinggal di Jakarta. Sampai sekarang beliau masih ada (semoga Alloh memanjangkan umurnya dan memberikan manfaat kepada kita dari keberadaannya)
  3. Al-Habib Abdullah bin Ahmad Alkaf
    Beliau tinggal di kota Tegal. Beliau adalah ayah dari Ustadz Thohir Alkaf, seorang dai yang melanjutkan tongkat estafet dakwah ayahnya.
  4. Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Alkaf
    Beliau adalah pengarang kitab Sullamut Taysir.

Dan masih banyak lagi anak didik beliau Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry yang tak dapat ditulis satu persatu. Putera beliau Al-Habib Salim pernah ditanya oleh seseorang, ìKenapa Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry tidak mengarang kitab sebagaimana umumnya para ulama ?î. Beliau Al-Habib Salim menjawab, ìBeliau tidak mengarang kitab, tapi mencetak ulama-ulamaî.

Beliau, al-habib Abdullah bin Umar asy-Syatiri menjadi marji í (rujukan) dalam berbagai persoalan, tidak terhitung lagi ishlah yang dilakukannya kepada pihak-pihak yang bertentangan. Seiring dengan kekokohannya yang semakin diakui beliau diserahi amanah untuk menangani pengawasan Rubath, pengurusan masalah santri dan pengarahan halaqah. Di tengah kesibukannya itu beliau menyempatkan diri memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Setiap malam Jumíat antara Magrib dan Isya beliau berdakwah kepada mereka di masjid jami í Tarim. Itu berlangsung sejak tahun 1341 H setelah wafatnya sang guru Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur. Di masa Al-Habib Alwi masih hidup pun beliau sering menggantikannya apabila gurunya sedang tidak berada di tempat atau mempunyai halangan. Hubungan beliau dengan gurunya ini sangat erat banyak kisah menarik di antara mereka, antara lain ketika sang guru hendak menghembuskan nafas terakhir, sebagaimana yang di kisahkan dalam lawamií An-Nur, halaman 18 : “Sebagaimana diketahui para wali Allah ketika menjelang wafat biasanya menyerahkan urusan atau tugas yang diembannya kepada seseorang yang memenuhi syarat. Terkadang anaknya sendiri yang menerima kepercayaan itu mungkin pula muridnya bahkan terkadang gurunya yang masih hidup yang menerimanya.”

Pada sore hari menjelang malam wafatnya Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur, beliau sedang memberikan pelajaran sebagaimana biasanya di Rubath , ketika salah seorang murid membaca beliau terlihat mengantuk, maka murid yang membaca itu sebentar-bentar berhenti membaca, tetapi beliau malah membentaknya agar ia meneruskan membacanya, Karena murid itu berkali-kali diam maka beliaupun menyuruh murid yang lain untuk membaca. Hanya sebentar beliau mengantuk tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya dan berteriak dengan keras, îSemoga Allah merahmati Al-Habib Alwi Al-Masyhur. î Kalimat demikian mengisyaratkan bahwa Al-Habib Alwi akan atau telah wafat. Kemudian beliau meminta murid-murid untuk tidak membicarakan atau memberitahukan kepada orang lain sampai berita itu diumumkan sebagaimana kebiasaan di sana.

Kemudian beliau keluar ruangan seraya menyuruh murid-muridnya melanjutkan pelajarannya. Beliau menuju rumah Al-Habib Alwi Al-Masyhur, pada saat itu habib dalam keadaan menjelang wafat, didampingi putranya, Habib Abu bakar. Setiap kali sadar dari pingsannya, ia bertanya, îApakah Abdullah Asy-Syathiri telah datang ? Apakah ia sudah sampai ?î kalimat itu yang terus diulanginya. Maka berkatalah putranya, îApakah ayah ingin kami mengirim orang untuk menjemputnya ?î Al-Habib Alwi menjawab, ” Tidak.î

Pada saat yang dinantikan itu, tiba-tiba Al-Habib Abdullah bin Umar asy-Syatiri datang, maka Al-Habib Alwi pun bergembira dan berseri-seri wajahnya. Hubungan bathin segera tersambung diantara mereka. Mereka berpelukan, berjabat tangan dan seolah ada sesuatu yang dititipkan kepada Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri. Kemudian ruh Al-Habib Alwi pun kembali kepada Tuhan-Nya. Tampaknya sebelum itu hanya menunggu kehadiran pemilik amanah yang akan ia serahi kepercayaan itu. Itulah salah satu kisahnya dengan gurunya itu.

Menziarahi Peninggalan Salaf

Sejak kecil beliau senang menziarahi peninggalan-peninggalan salaf, ayahnya pernah berkata kepada Al-Habib Ali Bungur, îketika kami (ia dan anaknya) mengunjungi Huraidhah,wadi ë Amad dan Duían untuk pertama kalinya, yang saya katakan kepada penduduknya adalah, ìTolong beri tahukan kami semua peninggalan salaf di sini. Karena, apabila kami telah pulang ke Tarim dan orang menyebut tentang suatu peninggalan yang ia (anaknya, Al- Habib Abdullah) belum kunjungi saya khawatir ia akan sangat menyesal, saya tahu ia sangat gemar pada sirah para salaf dan peninggalan mereka î.

Wafatnya

Hampir satu bulan lebih sebelum wafat beliau sakit, menderita penyakit yang sedari dulu tak kunjung sembuh yaitu gejala penyakit ambien (wasir) dengan sering keluar angin dari dubur beliau, beliau sudah mencoba berobat kepada beberapa orang dokter tetapi hasilnya tetap saja nihil. Akan tetapi semua itu tidak mengganggu aktivitas beliau dalam beribadah, semua shalat fardhu beliau laksanakan bahkan terkadang menyuruh anak-anaknya atau sebagian dari muridnya untuk membaca kitab dihadapan beliau.

Pada tanggal 7 Jumadil Ula 1361 H. (menurut keterangan Sayyid Muhammad bin Hafizh dari Sayyid Muhammad Al-Mahdi) yaitu dua puluh hari sebelum wafatnya, beliau menyuruh hadir/datang seluruh anak-anaknya, kerabat dan keluarga semuanya baik laki-laki ataupun perempuan. Beliau berwasiat kepada mereka supaya saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, saling membantu satu sama lain. Dan beliau membritahu mereka bahwa tidak lama lagi beliau akan meninggalkan mereka untuk menemuai kehadhirat Allah Swt. Mendengar perkataan tersebut menangislah seluruh yang hadir.

Pada hari Jum’at tanggal 28 Jumadil Ula beliau sudah tidak mau bicara, kemudian setelah shalat Jum’at anak-anak beliau membukakan pintu rumah kepada siapa saja yang ingin berziarah atau ingin ambil berkah, maka dengan spontan orang berdatangan kerumah beliau.

Pada malam sabtu tanggal 29 Jumadil Ula 1361 H (13 juni 1942), dua puluh empat menit setelah tenggelam matahari ruh beliau diambil Yang Maha Kuasa, jenazah beliau dishalatkan di Jabannah setelah shalat Ashar sore hari Sabtu. Banyak orang berdatangan dari penjuru daerah seperti Syibam, Seiyun, Qasam, Inad dan lain-lain untuk menghadiri shalat jenazah Habib Abdullah Asy-Syatiri. Pada kesempatan itu turut hadir ulama-ulama besar Hadhramaut seperti Habib Mustafa bin Abdullah bin Smith, Habib Muhammad bin Hadi As-Seggaf, Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi dan banyak lagi selain dari mereka.

Jenazah beliau dimakamkan di Turbah Zanbal Tarim berdekatan dengan ibunya Hababah Nur binti Umar bin Abdullah bin Syihabiddin tepatnya dibawah kaki ibunya tafaulan bahwa surga ditelapak kaki ibu.

Kota Tarim berduka dengan wafatnya sang guru yang sangat dicintai muridnya, tetesan air mata pun tak mampu dibendung, para santri merasa kaku tak mapu untuk bicara ditinggal sang panutan yang telah berjasa membimbing mereka. Masyarakat Tarim pun bersedih ditinggalkan salah seorang suri tauladan yang bijaksana telah tiada pergi untuk selama-lamanya. Semoga Allah membalas jerih payah beliau dalam membimbing umat dan dakwah ilallah.

Tak terhitung banyaknya tokoh yang menghadiri pemakamannya, berbagai ratsa í (ungkapan duka) dibuat para penyair atas wafatnya sang habib. Semuanya termuat dalam salah satu kitab manaqibnya, Nafh ath-Thib al- ëAthiri min Manaqib al-Imam al-Habib Abdullah asy-Syathiri, yang disusun dan dihimpun oleh muridnya, Al- ëAlim Al-ëAllamah Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahanda Al-Habib Umar bin Hafidz.

Sepeninggal Al-Habib Abdullah Asy-Syathiri Rubath Tarim diasuh oleh putra-putranya, pertama-tama yang menggantikannya adalah putranya yang bernama Al-Habib Muhammad Al-Mahdi Al-Kabir yang mampu mengemban tugas itu dengan sangat baik. Ia menjadi pengasuh sekaligus menjadi guru besar di maíhad ini, setelah itu adiknya Al-Habib Abu bakar bin Abdullah asy-Syathiri, yang sebelumnya selalu membantu kakaknya mengajar. Kemudian kepemimpinan Rubath Tarim berada di tangan Al-Habib Hasan Asy-Syathiri dan kini yang memimpin putra Al-Habib Abdullah yang lainnya, yaitu Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri yang sekarang menjadi salah seorang tokoh terkemuka di Tarim yang terkenal sebagai “Sulthanul Ulama”, Al-Habib Abdullah patut tersenyum bahagia karena para penerusnya terus bermunculan dari masa ke masa baik dari kalangan keluarga maupun murid-murid yang lainnya.