Nasab

Istilah Dikalangan Ulama Ahli Nasab

Dalam kitab Risalah al-Mustholahat al-Khossoh bi al-Nassabin fi Bayan Isthilahat al-Nasabah li Baídi Ulama al-Nasab dan kitab lainnya seperti Jamií al-Duror al-Bahiyah karangan syaikh Dr. Kamal al-Huut ketua perkumpulan Sadah al-Asyraf Libanon[1], dijelaskan beberapa istilah yang digunakan oleh para ulama nasab, yaitu :

a. Shahih al-Nasab.

Nasab yang telah ditetapkan kebenarannya di sisi ulama nasab berdasarkan bukti-bukti dan naskah-naskah asli yang terkumpul pada ulama ahli nasab yang amanah, waraí dan jujur.

b. Makbul al-Nasab.

Nasab yang telah ditetapkan kebenarannya pada sebagian ulama nasab tetapi sebagian lain menentangnya. Maka syarat diterimanya nasab tersebut harus melalui kesaksian dua orang yang adil.

c. Masyhur al-Nasab.

Nasab yang dikenal melalui gelar atau kedudukannya, akan tetapi nasabnya tidak dikenal. Di sisi ulama, nasabnya dikenal sedangkan pada kebanyakan orang nasabnya tidak dikenal karena adanya perselisihan satu sama lain.

d. Mardud al-Nasab.

Nasab yang disandarkan kepada satu qabilah/family, pada kenyataannya orang itu tidak menyambung nasabnya kepada qabilah/family tersebut, dan qabilah/family tersebut menolaknya. Maka statusnya termasuk golongan nasab yang ditolak di sisi ulama nasab.

e. Fulan Daraja.

Wafat tanpa meninggalkan anak.

f. Aqbuhu min Fulan/al-aqbu min Fulan.

Anak cucunya berasal dari fulan.

g. Fulan aíqab min fulan.

Anak cucunya tidak berasal dari fulan tetapi dari anak yang lain.

h. Fulan aulad/walad.

Fulan mempunyai keturunan.

i. Fulan Inqorodh.

Fulan tidak mempunyai anak cucu/terputus.

j. Fulan ëAriq al-Nasab.

Fulan ibu dan neneknya (dari ibu) berasal dari keluarga ahlu bait Rasulullah saw.

k. Huwa lighoiri Rosydah.

Fulan dilahirkan dari nikah yang rusak. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda : ëSiapa yang bersambung nasabnya kepada anak yang nikahnya rusak, maka dia tidak berhak mewarisi dan diwarisií.

l. Huwa min al-Adíiyah.

Fulan adalah anak angkat seorang lelaki. Nasabnya kembali kepada bapak aslinya.

m. Ummuhu Ummu al-Walad.

Ibu dari fulan adalah seorang jariyah (budak wanita).

n. La Baqiyah Lahu.

Keturunan fulan habis/musnah.

o. Usqith.

Fulan tidak ditemukan nasabnya sebagai ahlu bait dikarenakan nasabnya tidak menyambung.

[1] Syaikh Dr. Kamal al-Huut, Jamií al-Duror al-Bahiyah li Ansab al-Qurosyiyin fi al-Bilad al-Syamiyah, hal. 19.