Kalam Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi

Kalam Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi

Cara mengobati penyakit cinta dunia adalah mempertebal keimanan kepada Allah SWT dan hari akhir, serta menyadari betapa dunia itu cepat sirna, hina dan penuh kebencian.

Tanda pendeknya angan-angan adalah bersegera dalam amal dan selalu bersiap menyongsong kematian.

Baginda Nabi SAW bersabda: “Hadang-hadanglah lima hal sebelum datangnya lima hal yang lain: Masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kecukupanmu sebelum kefakiranmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum kematianmu.”

Dahulu Malik bin Dinar kerap berkata kepada dirinya sendiri: “Bersegeralah sebelum datangnya suatu perkara (kematian)!”

Ia selalu mengulang perkataan ini sampai enam puluh kali. Dalam tausiyah-tausiyahnya, ia sering berpesan: “Bersegeralah, bersegeralah!

Manakala nafasmu telah tertahan (mati), maka terputuslah seluruh amal shalehmu.” Pesan ini biasanya ia sambung dengan ayat,

إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا

“Sesungguhnya kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.”

Nafas adalah masa yang begitu cepat yang mengiringi manusia sepanjang hidupnya. Satu tarikan nafas sama dengan dua kedipan mata.

Satu kedipan adalah gerakan kelopak mata. Para kaum arifin mengungkapkan bahwa selama satu jam, manusia bernafas sebanyak seribu kali.

Sehingga dalam sehari semalam mereka bernafas sebanyak dua puluh empat ribu kali. Sebagian kaum arifin mengatakan bahwa dalam satu hari muncul tujuh puluh ribu bisikan dalam hati.

Jumlah ini setara dengan banyaknya malaikat yang masuk ke dalam Baitul Makmur dan tidak pernah kembali. Tidak disangsikan lagi bahwa di dalam hati terdapat Baitul Makmur yang ada kalanya baik, dan ada kalanya buruk.

Ada di antara orang-orang shaleh yang setiap hari berzikir kepada Allah SWT sebanyak tarikan nafasnya, yakni dua puluh empat ribu kali.

Amalkanlah faedah yang aku berikan ini! Sesungguhnya hitungan nafas manusia takkan pernah berkurang atau bertambah.

Akhir hitungan itu adalah keluarnya ruh, perpisahan dengan keluarga, dan masuk ke dalam kubur.

Ajal itu terselubung, sementara setan terus menakut-nakuti diri kalian dengan kefakiran serta membujuk kalian agar melakukan perbuatan maksiat.

Nafsu manusia itu mudah tergoda oleh syahwat, senantiasa menunda taubat dan ragu akan datangnya kematian.

Ketika perkara yang dijanjikan Allah SWT tiba, yakni kematian, maka manusia sebagai tamu dunia mesti pergi dan segala titipan yang dipasrahkan kepadanya harus dikembalikan.

Dalam syairnya Imam Abdullah al-Haddad berwejang:

Makmurkanlah umurmu yang fana dengan aneka wirid

Demikan pula waktu-waktu yang cepat berlalunya

Beliau menekankan pentingnya memanfaatkan umur serta mendaya-gunakan waktu yang begitu cepat mengantar manusia menuju tanah airnya yang hakiki, yaitu alam akhirat.

Pendaya-gunaan waktu yang efektif itu bisa dengan memperbanyak ketaatan dan merutini amal-amal shaleh seperti yang disinggung Allah SWT dalam firman-Nya:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS Al-Insan 76;25)

Zikir Hakiki

Memakmurkan waktu dengan membaca aneka wirid adalah salah satu jalan menuju Allah SWT. Dalam kitab Ihya Ulumiddin,

Imam Ghazali telah menjabarkan dan merinci perihal ini. Beliau juga menertibkan beragam wirid dalam bab Tartibul Aurad di kitab Ihya.

Di antara pesan beliau: “Barangsiapa menghendaki timbangan amal baiknya lebih berat, maka hendaknya ia memenuhi waktu-waktunya dengan amal ketaatan.” 

Beliau juga bertutur, “Barangsiapa menginginkan masuk surga tanpa melalui proses hisab, hendaklah ia melewatkan seluruh waktunya dalam ketaatan! Apabila ia mencampur-adukkan amal baik dengan amal buruk, maka keadaannya sungguh mengkhawatirkan.

Harapan selamat masih tak terputus darinya dan ampunan Allah SWT masih bisa dinanti. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan ampunan dengan kedermawanan dan kemuliaan-Nya.”

Sejatinya zikir lebih utama daripada sejumlah ibadah yang lainnya. Bahkan berbagai ragam ibadah yang derajatnya berbeda-beda pada hakikatnya adalah zikir, yakni mengingat Allah SWT. Dalam Al-Quranul Karim Allah SWT berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku!” (QS Thaha 20;14)

Allah SWT juga berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS Al-A’la 87;14-15)

Seluruh amal kebajikan bakal sia-sia manakala tidak diperuntukkan bagi Allah SWT, tidak murni ikhlas kepada-Nya.

Demikianlah hakikat zikir. Sungguh benar sabda Baginda Nabi SAW yang menuturkan bahwasanya thawaf di Baitullah, Sa’i di antara Shafa dan Marwa serta melempar jumrah, kesemuanya itu disyariatkan demi zikrullah (mengingat Allah SWT).

Sosok-sosok yang paling utama di antara mujahidin, orang-orang yang banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah, mereka semua senantiasa berzikir kepada Allah SWT.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Imam Thabrani, Imam Al-Asbahani, Imam Abu Zar’ah, Imam Abu Hatim, Imam Ibnu Zanjawiyah, dan Imam Abu Dawud. Pernah Baginda Nabi SAW ditanya oleh salah seorang sahabat: “Amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Dirimu mati, sementara lisanmu basah oleh zikir kepada Allah SWT.”

Hadits Abu Darda RA menuturkan bahwasanya Baginda Nabi SAW pernah bersabda di hadapan para sahabat: “Maukah kalian aku beritahukan amal yang paling baik, paling suci di hadapan Maha Raja kalian, paling tinggi mengangkat derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada memberi emas dan uang, lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh sehingga kalian memotong leher mereka atau mereka memotong leher kalian?”

Para sahabat serentak bertanya: “Amal apa itu duhai Rasululllah?” Kemudian Baginda Nabi SAW menjawab: “Selalu berzikir kepada Allah SWT.”

Allah SWT berfirman:

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai!”

Lewat ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa lupa adalah kebalikan dari zikir (ingat). Jadi sebetulnya zikir adalah tiadanya lupa atau lalai setiap saat terhadap segala yang diharamkan atau difardukan Allah SWT.

Inilah yang dimaksud dengan zikir hati, yakni zikir yang hakiki. Meski demikian, hadits-hadits telah memapakarkan bahwa zikir lisan memendam fadilah dan faedah tersendiri yang teramat besar….